Burhan, yang akrab dipanggil Bang Bule, bukan nama asing di lingkungan Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Setiap pagi, gerobak kopinya sudah berdiri kokoh, menyambut mahasiswa dan dosen yang membutuhkan secangkir semangat sebelum memulai hari.

Namun perjalanan hidup Bang Bule tidak semulus kopinya. Selama lebih dari dua dekade, ia bekerja sebagai caddy golf di Taman Impian Jaya Ancol, dari 1986 hingga 2008. Ketika lapangan golf itu tutup, ribuan caddy kehilangan pekerjaan, termasuk Bang Bule.

“Lapangan golf Ancol sudah tidak ada. Saya dipensiunkan lebih awal karena mau dipakai untuk penelitian pendidikan, perluasan Dufan, sama pasar seni. Luasnya 11 hektar,” ceritanya.

Sempat bekerja sebentar sebagai petugas dokumen kuburan di kawasan Cawang pada 2008 hingga 2009, Bang Bule kemudian memilih jalan lain. Pada awal 2010, ia mulai berjualan kopi di UNJ, modal awalnya kopi dan buah salak.

Dalam dua minggu pertama, ia sudah berhasil menjual lima bendel kopi dan tiga kilogram salak per hari. Empat tahun berselang, usahanya berkembang pesat. Kini ia menjual 21 bendel kopi, berbagai minuman lainnya, serta lebih dari 30 bungkus rokok setiap harinya, dengan keuntungan bersih sekitar Rp 500.000 per hari.

Yang membuat Bang Bule paling bangga bukan angka itu. “Alhamdulillah, saya sudah bisa menyekolahkan anak-anak sampai tamat. Beli motor juga, dan cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya dengan senyum.

Ayah tiga anak ini juga memelihara 18 ekor ayam kampung, berkembang dari dua ekor yang ia mulai, berharap bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Baginya, setiap kerja keras punya hasilnya sendiri, asal tidak menyerah di tengah jalan.