Kudapati sakit hati dari mereka yang kukasihi. Mereka yang benar-benar menjadi orang terdekatku selama ini. Dan percayalah, tidak ada yang lebih menyakitkan dari dilukai oleh tangan yang sama yang pernah kita percaya.
Dulu, aku pikir cara terbaik menghadapi rasa sakit adalah dengan menghindar. Pergi sejauh mungkin, mengisi waktu dengan kesibukan, atau sekadar menumpahkannya ke media sosial. Tapi ternyata semua itu hanya meringankan sebentar. Esok harinya, sakitnya tetap ada, bahkan terasa lebih berat.
Yang paling menyulitkan bukan rasa sakitnya sendiri, tapi kenyataan bahwa mereka yang menyakiti sering pergi tanpa benar-benar meminta maaf. Aku menangis dalam diam, menunggu sesuatu yang mungkin tidak pernah datang.
Sampai suatu titik, aku memutuskan: aku mau memaafkan. Bukan karena aku ingin terlihat mulia. Bukan juga karena mereka layak mendapatkannya. Tapi karena aku tidak mau menjadi seperti mereka yang telah menyakitiku. Aku memaafkan untuk diriku sendiri, supaya aku bisa melangkah tanpa membawa beban yang bukan milikku.
Pelan-pelan, aku mulai memperlakukan setiap luka sebagai pelajaran. Bukan sebagai kutukan, tapi sebagai sesuatu yang membentukku menjadi lebih matang, lebih peka, dan lebih bijak dalam memilih siapa yang layak masuk ke dalam hidupku.
Dan satu hal yang aku janjikan pada diri sendiri: aku tidak akan pernah menjadi sumber sakit hati bagi orang lain. Karena aku tahu rasanya, dan aku tidak ingin ada orang lain yang harus merasakannya karena aku.
Hari ini aku masih berdiri. Mungkin agak gemetar, tapi tetap berdiri. Dan aku yakin, dari titik ini, aku hanya akan menjadi lebih kuat.