Cinta itu tidak sesederhana matematika dasar. Tidak bisa dihitung, tidak bisa selalu dijelaskan. Tapi aku tahu satu hal pasti: cinta pertamaku jatuh di tempat yang sangat tepat.
Sejak aku hadir di dunia, aku dengan sukarela menjatuhkan cinta pada seorang lelaki yang biasa kupanggil dengan sebutan Ayah. Ia bukan lelaki sempurna dalam gambaran buku-buku roman. Tapi cintanya untukku tidak pernah ada batasnya.
Ia yang mengajariku mengayuh sepeda untuk pertama kalinya. Ia yang selalu punya pelukan hangat di hari-hari ketika dunia terasa terlalu berat. Ia yang tidak pernah menghakimi, hanya mendengarkan, dan selalu percaya bahwa aku bisa melewati apapun yang menghadangku.
Sampai sekarang aku belum menemukan pasangan. Bukan karena aku terlalu pemilih. Tapi karena aku tidak ingin meletakkan hatiku di tempat yang salah. Aku sudah melihat contoh nyata bagaimana cinta yang tulus itu terasa, dan standar itu tidak terbentuk dari drama korea atau novel. Ia terbentuk dari cara Ayah mencintai kami sekeluarga.
Aku melihat kebahagiaan Ibu. Dan aku tahu, kebahagiaan itu hadir karena ia membuat pilihan yang tepat. Itu yang aku inginkan suatu hari nanti. Bukan buru-buru, tapi pasti.
Ayah pernah berpesan: carilah seseorang yang mencintaimu tanpa syarat dan membuatmu merasa aman. Pesan itu terus aku bawa sampai hari ini.
Terima kasih, Ayah. Untuk menjadi standar tertinggi, sekaligus alasan mengapa aku tidak mau menyerah mencarinya.